“Terlalu percaya adalah kelemahan bagi orang dewasa dan menjadi kekuatan bagi anak kecil “ Sebuah pujangga dari enbethe.
Aku sedang membaca , tiba2 terdengar keributan di dapur. Adikku dan kakakku rupanya.
“Kak, lantainya koq kesat, gak mengkilap lagi macam rusak”, kata Faisal.
“Tadi kakak bersihkan goresannya pake air yang di botol di belakang kulkas, kata Sari, bisa bikin goresan di lantainya hilang.”
“Seharusnya kakak langsung bersihkan air bersih habis ngelap pake itu”, kataku.
“Jadi kayak mana neh, nanti kena marah mama kalo lantainya kayak gini. Sari, kau kan yang bilang sama kakak kalo pake cairan pembersih itu, goresan lantainya bisa hilang ?”
Sari menjawab, “Iya, tapi bang, aku nengok Papa semalam coba pake itu habis dapat itu dari kawannya. Goresan lantainya hilang koq habis dikasih itu.”
“Tapi itu juga ngerusak lantai rumah kita kalo nggak dibersihkan lagi pake air bersih, alah, udahlah, laen kale kasih taulah kalo pake barang sama kami, jangan asal tengok langsung pake. Sekali lagi kayak gitu, awas.”
Sangat disayangkan bila kepercayaan itu bagi orang dewasa dianggap sebagai jebakan. Tak heran kalau yang paling sering bohong adalah orang dewasa. Banyak anggapan percaya kepada orang lain sama dengan fifty2 membawa kebaikan fifty2 membawa keburukan atau bahkan kesialan. Cobalah lihat anak2, sangat polos, mereka berani jujur dan menjauhi apa yang telah dilarang oleh orang tuanya. Di sini bukan berarti, kita harus menjadi anak2. Kita harus tahu bagaimana menyadari bagaimana kepercayaan bisa begitu penting untuk dipegang atau diberikan. Sekarang ini kita sudah terlalu jauh dari realita kebenaran. Berkhianat, ingkar, pengecut dan lain sebagainya berawal dari manusia satu. Manusia satu tidak akan mempercayai manusia lainnya, karena ia telah melihat bahwa manusia lainnya juga selalu tidak mempercayai manusia lainnya. Maka dari itu, yang menjadi pertanyaan adalah apakah kita untuk memulai suatu kepercayaan harus melihat orang lain dulu,
“Ah orang lain aja nggak mau kayak gitu, aku jugalah, orang lain kan pasti banyak yang nggak percaya sama aku, mereka kan hanya memakai topeng saja di depan ku, tapi apa yang mereka lakukan adalah mengejekku, menjadikanku sebagai bahan tertawaan bagi teman2nya yang ia lebih percayai. Aku menjadi boneka baginya. Di depanku ia baik, tetapi di balik layar, aku sudah dipermalukan
.”
Banyak pertemanan berakhir dengan seseorang yang seperti itu. Sangat sulit untuk mulai membangkitkan kebiasaan untuk lebih mempercayai orang lain, kalau tidak kita yang memulainya lebih dahulu
. Kalau tidak, apakah kita harus menunggu orang lain memulainya ? Maka lebih baik kita mulai sekarang. Percayalah ! ![]()

















*THH*
0 Tanggapan ke “Terlalu percaya adalah kelemahan bagi orang dewasa dan kekuatan bagi anak kecil”