Kita telah melakukan, kita telah pegang tanggung jawab
Suatu hari, Guru Fisika kami mengumumkan suatu hal yang menggembirakan,"Akan diadakannya Olimpiade Fisika Nasional yang dijanjikan jika menang akan lanjut ke Olimpiade tingkat Internasional, tetapi ini bagi yang berminat dan berbakat, jadi dengan melalui seleksi, akan disaring.orang2 yang berminat dan sekaligus berbakat, bisa saja ada yang berminat tetapi tidak berbakat. Kemudian bagi yang lulus seleksi akan dilatih oleh para pelatih yg profesional". Mendengar pengumuman itu, saia mulai tertarik. Saia segera mendaftarkan diri saia. Tidak salahnya saia mencoba.
Hari sebelum tes seleksi, saia banyak mempelajari pelajaran2 fisika yang pernah diajarkan, karena saia memperkirakan test ini hanya melibatkan pelajaran2 sampai kelas 1 SMA. Tetapi apa yang saia perkirakan bukan seperti yang saia sedang hadapi pada saat test. Test tersebut berisikan 80% pelajaran fisika 2 SMA, dan hanya 20%-nya 1 SMA yang kesemuanya adalah pilihan berganda. Saia langsung bukan kepalang. Walaupun begitu tak salahnya mencoba. Dalam benak saia, saia ingin jujur menjawab yang saia bisa. Diantara soal itu saia hanya menjawab ke-9 soal fisika yang menyangkut pelajaran2 kelas 1 SMA dari 45 soal test (diperkirakan).
Kemudian pada hari pengumuman, saia melihat bahwa saia gagal. Saia hanya mampu menjawab dengan skor 8. Sedangkan teman2 sekelas saia, skornya 44. Bahkan anak kelas 2 SMA hanya bisa dapat skor paling banyak 44l. Wow, sekarang terlintas di benak saia. Peluang dalam kasus ini adalah 70/30 alias seventy-thirty. Bisa saja dia menembak soal, bisa saja dia menjawabnya sebagaimana dia tahu menjawabnya, saia akan salut akan hal itu.Tetapi 70% kemungkinan, ia menjawabnya dengan menembak soal. Apakah itu dianggap jawaban yang ia tahu menjawabnya? Saia ingin objektif, saia pun bisa melakukannya, saia bukannya ingin iri, tetapi ingin sportif, bukan hanya sportif tuk diri saia sendiri tetapi bagi bangsa ini juga. Ah sudahlah, lagipula tak akan berguna bagiku tuk menyesal apa yang t’lah terjadi. Hanya yang dapat kukatakan kepada teman2ku yang lulus : "Bawalah kemenangan itu ke SMA kita ini, buktikanlah kemampuan itu
".
Alasan atas itu semua ialah Aku tak ingin membohongi diriku karena aku adalah manusia, adalah orang yang memiliki pikiran satu, tak pernah menduakan dirinya. Diriku adalah diriku. Tak akan kuperlakukan bagaikan orang lain dihadapanku
. Biarlah orang bilang saia bodoh, barangkali bodoh itu adalah mereka. Yang lepas dari kebenaran dan kebaikan. Mungkin ini bisa menjadi renungan ku malam ini.

















*THH*
biarkan Tuhan saja yang menilai
itu saja