Improving Time

This week I tried to rent a motorbike in Jakarta. It cost around 260K rupiahs for three days. The package includes two helmets and a motor tax paper. I used it for doing some long rides, like Slipi-Depok and Depok-Pulomas routes. It is about a journey along the outskirt of Jakarta. I like it because I can save more time than if I used trains and buses. I would like to say “it improves my time”. So, why I say so? Let me explain that.

How do you see “time”? In “The Effective Executive” book, time is an nonrenewable resource. Since nothing can substitute time, its value is priceless. Imagine gold or diamond, can you think why it is expensive? Yes, because it is a kind of scarce resource, so does time. Time is an expensive resource. Imagine that you have to spend 4 hours for commuting during works, can you count how much time you can spend for leisures outside work? Yes, it must be 24 hours minus 4 hours minus working time. That will be the time that is deserved for you to have an enjoyable life. If you can cut the commuting time, you can have more of your time and improve your time. You can gather and use that amount of time means that you have spent the most expensive things for your happy life.

My trip like Slipi-Depok, Depok-Pulomas, and Pulomas-Slipi usually took about 90, 120, and 180 minutes respectively. Compared to motorbike ride, it needs 30, 60, and 30 minutes. The latter improves 70% of the travel time of the former. I can understand why many Jakartans ride motorbikes, even though the public transportation networks are massive. I am impressed by the way Transjakarta buses work. They have their own lanes on highways. Everyone expects them to be speedy while other vehicles do some struggles in traffic jams. The problem is that many of those lanes are overlapping with private vehicle roads, making no difference in such a traffic jam situation. Most bus stations are also far from residences; 15 minutes walk for me. Besides, the passengers have to be patient waiting for the bus that can arrive in 30 minutes.

Considering a train, it is the most fastest vehicle in the city, yet not always in time. For reaching some stations, it might stop first in the middle of the way to wait a station entry queue and it can be 30 minutes long. There are another alternatives, such as Uber Moto and GrabBike. At normal usage like taking a 5 minutes trip, the drivers will gladly bring you to the destination. However, they always throw away orders of 30 minutes or more trip. So, there is much uncertainty of transportation in Jakarta. In the other hand, motorbikes offer a full privilege in making trip. They are affordable for personal usages. People even can own it via simple financial credits. Oil becomes cheaper now too.

Considering the rent cost, it is rationally unjustifiable. I took the decision to rent a motorbike as a part of a research to prove the argument that I really need a motorbike. In other occasions, I met some colleagues and they told me I am crazy. They asked me why you spent a lot of money for that thing. Simply, I answered “I am just buying freedom”.



Good Friday Preacher

Thanks God It’s Friday. It was Friday prayer. I got something interesting about the preaching material today. It was quite provoking the current situation about politics in Jakarta. Moslem Jakarta residents will face the governor election, maybe next year. Everybody already knows that a religious sentiment has arisen.

In the preaching session, the ustadz says that we should ask our self why telling people that you want to choose a Muslim leader is considered as a racist statement. Once more, the ustadz exerted a good one, “Don’t grant authority to those who don’t understand you.”. Well honestly, I agree with this statement. While, there are many people in the mosque have already heard about this, and I just wonder whether the idea has been spread over mosques in Jakarta. Let us see what will happen next.

Tentang Kelompok Strategis

Hari ini kembali membaca buku Competitive Strategy. Awal mula bertemu dengan buku ini, saya secara tidak sengaja membaca salah satu postingan di Quora tentang business, lalu seseorang menyarankan untuk membaca buku ini. Saya mendapatkan buku ini dari seorang teman yang kebetulan sedang memilikinya. Tertarik membaca abstrak dan pendahuluannya, saya melanjutkan ke bagian isinya.

Baiklah, bab yang saat ini sedang saya baca adalah pembahasan Structural Analysis Within Industri. Bab ini salah sati dari pembahasan yang menarik menurut saya. Semua perusahaan yang ingin sustain tentu harus punya strategi untuk bersaing dengan perusahaan lain. Walaupun suatu perusahaan memproduksi barang/jasa yang berbeda dengan perusahaan yang lain, bisa jadi mereka berada di industri yang sama. Misalnya, perusahaan maskapai penerbangan dan perusahaan travel agent. Walaupun keduanya punya produk yang sama dan saling membutuhkan, mereka bergerak di industri yang sama, yaitu penerbangan. Jadi bisa saja mereka bersaing, misalnya si maskapai takut kalau penjualan tiketnya dikuasai salah satu travel agent, bisa pula travel agent takut kalau penjualan tiketnya menurun sebab si maskapai yang mendominasi penjualan tiba-tiba bad mood dan membatalkan kontraknya. So this is how competition can go wrong. Di lain hal, suatu industri bisa saja berhubungan dengan industri lainnya. Jadi, persaingan selalu ada di setiap level.

Karakteristik suatu perusahaan dapat dilihat dari strategi yang ia adopsi. Strategi dari suatu perusahaan dapat dipandang dari beberapa dimensi, seperti economies of scale, product differentiation, service quality, vertical integration dan lain-lain. Suatu perusahaan bisa memproduksi barang yang harganya murah, karena memiliki strategi untuk mencapai economies of scale, namun di sisi lain perusahaan tersebut mungkin “kurang tertarik” untuk membuat produknya punya brand atau punya fitur canggih atau juga kualitasnya sangat baik. Karakteristik tersebut dapat dipetakan ke diagram dua dimensi seperti gambar di bawah yang dinamakan strategic group map. Misalnya perusahaan X punya strategi economies of scale, tapi produknya berkualitas rendah, sedangkan D produknya bagus, tapi agak mahal dan jumlahnya terbatas, lalu  perusahaan O produknya lumayan baik dan tidak terlalu mahal ataupun murah. Perusahaan seperti X biasanya ada lebih dari satu, sehingga bisa jadi ada sekelompok perusahaan yang punya strategi yang sama. Kombinasi beberapa strategi mungkin diadopsi oleh beberapa perusahaan. Kombinasi strategi ini diistilahkan strategic group.

economies of scale


|             X


|                        O

|                                                                         D

____________________________________________   product quality

Pertanyaan yang akan dijawab pada bab ini adalah, kalau perusahaan selalu punya persaingan, bagaimana mereka bisa yakin mendapatkan untung? Ajaibnya buku ini memberikan penjelasannya di buku ini. Strategic group ini dapat menjelaskan hubungan profitability suatu perusahaan dan kebijakan strategisnya.

Dunia ini memang tidak selalu adil. Ada kondisi yang menguntungkan, dan ada pula kondisi yang tidak menguntungkan, and we deal with it.


Begitu pula dalam dunia bisnis. Ada perusahaan yang selalu untung karena punya posisi yang strategis, dan ada pula yang selalu merugi karena berada di posisi yang kurang strategis. Besarnya profit tergantung seberapa besar lapak yang dapat dikuasai. Sayangnya, persaingan membuat suatu perusahaan harus berbagi lapak atau market size dengan perusahaan yang menjual barang yang sama dengan cara yang relatif sama, dengan kata lain berada pada strategic group yang sama.

Ibaratnya sebuah kue dibagi ke beberapa anak, setiap anak harus puas dengan kue yang sudah dibagi, walaupun ukurannya tidak sama. Ada yang punya bagian besar karena anak kesayangan, ada pula yang kecil karena tidak sanggup makan banyak kue. Dengan semakin banyak perusahaan yang bersaing, maka semakin kecil pula profitnya (dengan asumsi perusahaan tersebut puas dengan kondisinya saat ini).

Bagaimana dengan perusahaan yang tidak puas dengan profit yang kecil? Ternyata tidak mudah bagi perusahaan untuk berubah strategi, karena perusahaan tersebut tidak memiliki kemampuan untuk mencapai strategi baru tersebut. Misalnya, dengan mendapatkan sumber bahan baku baru yang lebih baik dan lebih murah akan menunjang kebijakan untuk membuat produk yang lebih berkualitas, namun sayangnya sumber bahan baku tersebut sudah dikuasai oleh perusahaan incumbent yang sudah mendapatkan izin lebih dahulu dari pemerintah. Padahal kalau strategi baru tersebut dijalankan mungkin perusahaan tersebut bisa lebih untung daripada sekarang atau bahkan lebih daripada itu. Atau kebalikannya, sebuah lahan bisnis yang mudah dimasuki oleh pendatang cenderung akan sangat kompetitif, sehingga tidak dapat dijadikan sebuah sumber keuntungan dalam jangka waktu yang lama.

Perubahan strategi ini analog dengan perpindahan dari suatu strategic group ke strategic group yang lain pada map seperti yang digambarkan di bawah. Pada awalnya O memproduksi barang yang berkualitas sedang dan harganya lumayan, sekarang karena O memiliki sumber daya yang lebih baik tanpa tambahan biaya produksi, maka ia dapat memproduksi barang yang lebih berkualitas tanpa mengubah harga sebelumnya. Jadi, O memasuki strategic group yang baru, yang bisa jadi memberikan profit yang lebih baik dari sebelumnya, bisa jadi menemukan market segment terbaru atau karena telah “merebut” market share dari D.

economies of scale


|             X


|                                                                       O

|                                                                         D

____________________________________________   product quality

Faktor yang menghalangi suatu perusahaan memasuki suatu market disebut entry barrier. Keberadaan entry barrier melindungi perusahaan-perusahaan pada  suatu strategic group dari masuknya perusahaan baru sebagai kompetitor. Jika sebuah perusahaan memahami posisi strategic groupnya, maka akan mudah untuk memprediksi apakah profitabilitasnya akan bertahan dalam jangka panjang atau jangka pendek. Strategic group yang sulit untuk dimasuki oleh perusahaan baru akan memiliki profitabilitas yang stabil dalam jangka panjang. Sebaliknya, jika strategic group tersebut mudah dimasuki oleh new entrant, maka profitabilitas industri tersebut tidak akan stabil dalam jangka waktu yang lama.

Menurut saya, strategic group map akan sangat berguna untuk menentukan posisi perusahaan di dalam dan di luar industri, memahami kelemahan dan kekuatan, melihat peluang, dan berpindah posisi. Beberapa startup besar di Indonesia sudah memiliki jutaan pengguna dan growth yang sudah mulai melambat dari sisi revenue dan angka pengguna. Mereka ini adalah pemain lokal yang sudah besar di Indonesia. Bayangkan mereka sedang ingin mencari lahan bisnis baru. Let’s say growth engine. Misalnya, mereka dihadapkan pada dua pilihan, yaitu menambah kategori produk baru atau ekspansi ke luar negeri. Biasanya startup memiliki dana yang sangat besar diawal-awal dan memiliki teknologi yang lebih baik pada industri tersebut. Dengan kualitas SDM yang hampir mirip, bukan tidak mungkin semua startup bisa membuat produk yang sama untuk segment market sama, sehingga timbullah persaingan. Perlu diketahui bahwa beberapa startup memiliki networking yang baik dengan kolega atau teman mereka di luar negeri. Dengan asumsi bahwa business model yang sama akan berlaku di negara lain, maka ekspansi ke luar negeri akan memberikan keleluasan lebih untuk berpindah ke strategic group yang baru, yang barangkali startup lain tidak memiliki advantage tersebut. Lalu setelah startup tersebut menguasai pasar di luar negeri, barulah membidik segment market yang baru dengan produk baru yang hampir sama dengan startup lokal sebelumnya. Startup tersebut kini dapat membuat produk baru dengan strategic group yang berbeda dari sebelumnya.

Mungkin itu saja yang bisa saya tulis tentang bab ini. Semoga bermanfaat.


and special thanks for Atiqah Amanda from Faculty of Economics, University of Indonesia, for reviewing this article.

Jalan Lain ke Jakarta

Sebagai pengguna kendaraan umum di Jakarta, khususnya seperti Busway dan KRL, masih sulit rasanya mencari rute kendaraan umum yang tepat kalau ingin pergi ke suatu tempat di Jakarta. Contohnya, sewaktu pertama kali bekerja, saya harus cari tahu rute dari Stasiun Universitas Indonesia ke Halte Slipi Kemanggisan, yaitu halte yang paling dekat dengan tempat saya bekerja. Saya coba menggunakan Google Maps, tetapi masih kurang tepat. Misalnya, saya cari dengan rute yang sama, aplikasi memberikan saran rute yang mengharuskan berjalan kaki dari stasiun kereta, padahal ada halte busway yang dekat tempat bekerja.


Hasil pencarian Google Maps untuk rute dari Stasiun Universitas Indonesia menuju Halte Slipi Kemanggisan. Google Maps menyarankan untuk melewati Stasiun Tanah Abang, lalu ke Stasiun Palmerah, dan akhirnya jalan kaki ke Halte Slipi Kemanggisan.

Saya mencari-cari informasi tentang rute busway di Wikipedia dan ternyata ada serta lumayan lengkap. Baru-baru ini kita juga bisa mengetahui lokasi busway melalui situs Sayangnya, informasi yang tersedia banyak sekali dan independen dengan informasi transportasi jenis lain, misalnya KRL. Sulit rasanya kalau harus membuka beberapa halaman Wikipedia untuk mencari tahu naik apa untuk pergi dari X ke Y. Berdasarkan kenyataan ini, saya iseng-iseng untuk membuat aplikasi yang menggabungkan semua informasi ini. Linknya ada di tautan ini.

Screenshot from 2015-12-03 22:05:28

Aplikasi ini saya namakan Meloentjoer (baca: meluncur). Mimpinya, pemakainya bisa pergi bebas kemana saja di Jakarta tanpa hambatan layaknya roket yang melesat ke langit. Terdengar begitu hiperbola ya, never mind, namanya mimpi. Selaras dengan latar belakang tadi, informasi dari aplikasi ini tidak saya yang buat atau reka-reka, tetapi murni menggunakan informasi yang ada di Wikipedia.

Saya mencoba-coba bermacam-macam rute dan menemukan beberapa hal menarik. Misalnya, rute dari Halte Bendungan Hilir ke Stasiun Universitas Indonesia. Biasanya saya melewati Halte Cikoko Cawang. Namun, ternyata ada jalan lainnya, yaitu melewati Stasiun Sudirman. Kelebihan rute tersebut dibandingkan sebelumnya belum tahu, tetapi bisa dijadikan alternatif kalau salah satu jalur tidak bisa diandalkan. Rute-rute alternatif juga saya temukan di hasil pencarian yang lain. Misalnya dari Halte Ancol ke Stasiun Bogor, ada rute yang melewati Stasiun Kampung Bandan dan ada pula yang melewati Halte Matraman lalu ke Stasiun Manggarai.

Anyway, baru inilah yang bisa saya buat. Dan perlu dicatat bahwa harga dan waktu estimasi yang tertera masih belum akurat. Ke depannya akan diperbaiki. Semoga bisa membantu saudara-saudara yang suka transportasi umum Jakarta, khususnya Busway dan KRL. Kritik dan saran yang membangun akan diterima dengan lapang dada.


Kabut Asap 2.3

Hari ini tanggal 23 Oktober, langit di luar kantor terlihat berkabut asap. Akhir-akhir ini sering mendengar berita tentang kabut asap. Saya penasaran seperti apa kabut asap yang diberitakan media. Saya teringat dengan kerjaan pengolahan citra satelit dulu sewaktu di Jepang dan akhirnya membuka situs ini lagi untuk mengetahuinya.,MODIS_Terra_CorrectedReflectance_TrueColor,Reference_Labels%28hidden%29,Reference_Features%28hidden%29,Coastlines&t=2015-10-04&v=95.5583258978186,-9.169830684187254,119.5700446478186,2.045013065812747

Hampir seluruh bagian Pulau Sumatera dan Kalimantan ditutupi asap pada tanggal 20 Oktober 2015

Hampir seluruh bagian Pulau Sumatera dan Kalimantan ditutupi asap pada tanggal 4 Oktober 2015

Bisa Anda lihat sendiri di situsnya, pada awal Oktober 2015, ternyata kabut asap kita memang parah. Hampir seluruh bagian Pulau Sumatera dan Kalimantan tertutupi asap.

Kenapa ada kabut asap ya? Saya dengar dari berita ada beberapa perusahaan setempat yang sengaja membakar lahan, dan kebakaran tersebut dibiarkan menjalar kemana-mana. Kalau ada kebakaran, ya seharusnya dipadamkan *ya iyalah. Namun, masalahnya berita kebakaran ini baru terdengar setelah penduduk di sekitar menyadarinya dan seketika itu pula kebakaran sudah kian meluas. Dan semakin luas kebakaran, semakin sulit pula kebakaran dipadamkan. Jadi, lebih baik mengetahui kebakaran dan bertindak lebih awal sebelum terlambat. Dan pelaku pembakarannya bisa cepat ditangkap dan diadili.

Saya tidak tahu sejauh apa NASA punya data, tetapi berdasarkan pengalaman dulu, data yang mereka sediakan cukup untuk membuat sistem deteksi kebakaran lahan dan pemantauan wilayah muka bumi seluruh Indonesia lebih cepat dan otomatis. Harapan saya di masa mendatang, kejadian seperti ini tidak terlupakan dan terulang kembali.

Bagaimana menurut Anda tentang kabut asap ini?

random thing #2

Hari ini cerah sekali, terlebih lagi hari ini adalah hari Sabtu. Setelah bangun pagi, hal yang paling menyenangkan adalah duduk di depan jendela, memandangi langit biru di luar sana.

Oh musim semi....

Oh musim semi….

Setelah puas pikiran terbang ke langit biru, perhatian kembali tertuju ke dalam ruangan. Aku melihat ke atas meja, tergeletak sebuah Raspberry Pi (RPi) beserta beberapa komponen elektronik, seperti servo kecil dan perkabelannya. RPi ini aku pinjam dari teman sekamar, kak Firman. Tak disangka-disangka dia membawa RPi. Daripada RPi nganggur, dan aku juga sering nganggur di kamar, jadilah kami bersahabat (Aku dan RPi), dirasa aneh memang. Ya sudahlah. Semoga kak Firman dapat pahala.

RPi dan komponen lainnya

RPi dan komponen lainnya

Sebelumnya, pernah main-main Raspberry Pi di kuliah System Programming. RPi agak aneh memang, soalnya ada GPIOnya, sedangkan di kuliah itu, kami memakai RPi layaknya komputer biasa. Ternyata GPIO itu mirip pin IO di microcontroller. Dulu pernah main-main dengan servo, tetapi saat itu menggunakan microcontroller. Terpikir seperti ini, apakah bisa mengendalikan servo dengan RPi. Kayak-kayaknya bisa aja, jadi terpikir kenapa ga dicoba aja. Akhirnya, memutuskan untuk mengutak-atik si RPi dan servo. Kemudian, saya coba threading, lalu memindahkan akses RPi dari LAN ke Wifi. Hasilnya seperti ini.

PWM diproduksi dengan memanipulasi kode untuk mengatur GPIO. Proses flip-flop LED dan mengendalikan servo dilakukan secara independen dengan menggunakan threading Python. Proses koding dilakukan secara remote melalui Wifi dengan menggunakan SSH. Alhasil, servo dan LED dapat dikendalikan secara remote.

Dari keisengan itu, saya berpikir Raspberry Pi mungkin bisa menjadi alternatif dari Arduino. Kalau dipikir-pikir, Arduino memiliki clock speed 16 Mhz, sedangkan RPi, menurut Wikipediaclock speednya sekitar 700 Mhz. Menurut sampling theorem, untuk merekonstruksi kembali sinyal yang diproduksi source (programmed PWM) W, frekuensi modulasi (processing signal) F harus lebih dari 2W. Di sini, F adalah clock speed RPi, sedangkan W adalah clock speed Arduino.

Hal tersebut berarti kita dapat menyimulasikan sinyal PWM Arduino, dimana the highest bandwidthnya atau secepat-cepatnya PWM yang bisa dibuat adalah 16 Mhz, maka kecepatan minimal yang dibutuhkan RPi adalah 2*16 Mhz = 32 Mhz, sedangkan RPi lebih cepat daripada itu. Ditambah lagi dengan kemampuan multi threading dari Linux untuk mengendalikan setiap pin GPIO secara independen. Sebenarnya yang belum terjawab adalah bergetarnya servo saat sudah berada di posisi yang diinginkan. Itu belum diselidiki. Satu dugaan adalah proses switching pada RPi menyebabkan ketidakstabilan frekuensi PWM yang diinginkan. Banyaknya proses dalam RPi sendiri dapat menyebabkan CPU menjadi sibuk dan switching ke proses untuk produksi PWM menjadi sedikit lebih lama dari yang normalnya atau dengan kata lain terjadi delay. Namun, karena clock speed RPi jauh lebih besar dari clock speed minimal yang dibutuhkan , delay switching tersebut dapat di-ignore. Ya, begitulah Sabtu saya hari ini. Sekian.

Oh ya, malam ini malam Minggu. Untuk kalian dimana pun berada, pesan dari mimin “Have a nice day! Have fun!” 😀