Behind The Scene : IriS Project (part 1)

Ini adalah sedikit dari kisah hidup sederhana saya selama mengerjakan proyek IriS System, sebuah proyek yang Alhamdulillah berhasil lolos ke local final Imagine Cup 2012. Selamat membaca.

Mukaddimah

Dimulai dari suatu hari di bulan puasa 1 tahun yang lalu, aku berkenalan dengan seorang pria yang badannya besar dan mungkin belum familiar, sebab aku baru berkenalan dengannya sejak Januari lalu. Aku memanggilnya bang Ednaz. Pada suatu ketika, aku dipanggil oleh bang Ednaz untuk berkeliling kota Medan bersama teman saya  lannya, Afuza dan bang Arif, mencari lokasi bagi acara UIGTM 2012 (itu semacam bedah kampus UI di Medan). Dan kebetulan pada tahun depan dia adalah POnya. Acara bedah kampus tersebut merupakan salah satu program kerja dari paguyuban kita dari Medan. Dari siang sampai sore, kami mengunjungi banyak penyedia gedung dan masih belum menemukan tempat yang cocok. Akhirnya, kami beristirahat di sebuah masjid di daerah Jl. Setia Budi. Pada waktu itu, dimulailah pembicaraan antara aku dan bang Ednaz mengenai rencana mengikuti Imagine Cup 2012. Proyek yang akan diangkat harus menggunakan teknik image processing  dan bagiku itu adalah tantangan yang sangat menarik, sebab yang kulihat di film-film, itu ilmu yang bisa bikin komputer bisa melihat. Dan hitung-hitung belajar, langsunglah aku tertarik. Bang Ednaz setahu aku merupakan salah satu dari tim UI yang tahun lalu berhasil lolos ke final Imagine Cup 2011 di New York. Bagiku ini adalah sebuah kegembiraan bisa bertarung untuk lomba tahun depan dan jika berhasil bisa keluar negeri. Tapi, tak semudah itu memikirkan impian yang nikmat itu. Mungkin aku harus merelakan sebagian performance akademikku. Aku berpikir itu, “Ya, mungkin itulah harga mahal yang harus dibayar. Mungkin ini langkah awal bagi karirku. Semoga Allah meridhoi jalan ini.” Perbincangan kami berdua hari itu berlangsung dengan penuh semangat hingga matahari terbenam.

Mulai saat itu aku mulai giat membaca tentang image processing. Aku membeli buku-buku yang membahas tentang image processing. Dan apa yang kutemukan adalah fungsi-fungsi, matematika diskrit, statistik, dan pelajaran lainnya yang cukup mengerikan. Bah, apanya ini, kok ini pula isinya. Tapi setelah dilihat-lihat ternyata inilah dasar image processing itu. Image processing itu ternyata bidang yang cukup menarik, mengapa? karena tidak hanya membutuhkan kemampuan bernalar, tetapi kemampuan berseni, menginterpretasikan warna, intuisi kecocokan visual. “Wah cocok kali lah itu, awak suka main photoshop, ya udah lah, hajar beh”. Aku cukup menguasai photoshop, sehingga Alhamdulillah image processing dapat kumengerti.

La Tahzan

Libur semester telah usai. Aku harus kembali ke kampus. Memang sedih rasanya harus berpisah dengan keluarga lagi. Bagiku pulang kampung itu seperti memperkosa perasaan. Saat akan pulang kampung, adalah hal memberatkan hati sehingga aku harus benar-benar menghentikan semua pekerjaan atau proyek yang sebenarnya ingin kuselesaikan. Sebab setibanya aku di rumah, aku pasti tak akan bisa memikirkan lagi pekerjaan atau hal-hal yang berkaitan dengan urusan akademik. Aku akan menikmati kehidupan dengan adik dan orangtuaku. Tetapi ketika harus kembali ke Depok, aku harus merasakan perpisahan dengan keluarga kembali. Oh God, why this must happen. Okelah, roda kehidupan harus tetap berputar.

Pada suatu hari, aku sedang asik browsing di lab. Browsing adalah hal yang biasa kulakukan dengan komputer lab. Hari itu aku membuka scele dan menemukan pengumuman open recruitment (oprec) anggota Microsoft Innovation Center. Lantas, aku berpikir, jika aku menjadi anggota MIC, aku bisa lebih mengembangkan diri dalam TI. Okelah, aku mencoba untuk mendaftar. Agar lolos menjadi anggota MIC, aku harus diwawancarai.

Saat itu sedang sore. Aku melihat kuningnya sinar matahari di balik jendela MIC *sebenarnya terkejut ntah kenapa suasananya mirip film. Tibalah waktu wawancara dan aku belum ada persiapan sama sekali. Untunglah pada waktu itu, pertanyaannya mampu aku jawab. Tapi ada satu pertanyaan yang masih kuat diingatan aku. Begini bunyinya, “Apakah kamu ikut MIC karena kamu mau ikut Imagine Cup?” Lantas saat itu aku tertohok, sebab aku pikir aku bisa lebih mudah mengikuti Imagine Cup karena fasilitas di MIC cukup lengkap. Ya itu adalah alasan yang pas, tapi sungguh lemah. Saat itu juga aku menyadari bahwa diriku masih lemah. Lalu aku jawab,”Tidak.” Aku mendapatkan pengalaman berharga saat itu juga, aku mengerti sebuah kata “mandiri”. Dan hasil oprec mengatakan aku tidak lolos menjadi anggota MIC Fasilkom. Aku tidak tahu mengapa. Tapi ya sudahlah. Syalalalala…

Work with Love

Semester 3 merupakan semester yang cukup berat perjuangannya. Pada saat itu aku mulai memegang jabatan sebagai ketua paguyuban dari Medan, menggantikan bang Arif. Sebenarnya alasan menjadi ketua pada waktu itu juga spontan. Aku sekedar hanya ingin saja, akhirnya timbul satu alasan kuat, tapi masalahnya aku lupa. Spontanitas seperti ini bukan pertama kali. Sejak SMA, aku sudah pernah menjadi PO sebuah kompetisi desain grafis buat pelajar se-Kota Medan dan alasannya menjadi PO juga spontanitas. Well, aku menganggap itu memang kelabilan masa mudaku.

Kerja samaku dengan bang Ednaz semakin erat terjalin selama semester 3. Aku membawa paguyuban, dia menjalankan program kerja. Aku merasa puas karena bisa mempertemukan banyak mahasiswa baru UI 2011 yang berasal dari Sumut dengan sesamanya, senior, dan teman-teman 2010, hingga akhirnya kami dapat merasakan nikmatnya silahturahmi itu. Dengan silahturahmi itu, kami akhirnya bisa melaksanakan acara bedah kampus terbesar yang pernah ada di Medan. Dan sebenarnya dalam silahturahmi itu, aku menganggap mereka seperti saudaraku sendiri.

Memang yang namanya liburan semester cepat sekali datangnya rasanya. Waktu itu sudah tahun baru, tapi aku masih harus menyelesaikan UAS. Banyak teman-teman yang sudah berpulangan ke Medan. Jadi, selepas ujian aku langsung pulang ke Medan. Tibalah kepanitiaan bedah kampus dimulai. Aku banyak terlibat dalam masalah transportasi, bukan decision making kepanitiaan tersebut, sebab aku ingin dengan membuat orang memikirkan beban bersama, maka dia akan semakin menghargai dan sayang dengan hasil kerja tersebut. Alhasil, itu benar-benar terjadi. Aku senang. Aku memang sedikit mangkir dari kepanitiaan sebab ayah memberikanku tanggung jawab untuk mengurus perusahaan travel. Tak kalah pula, aku harus menyelesaikan proyek-proyek IT dengan bang Irsyad, seorang senior di Fasilkom dan mantan ketua paguyuban. Aku ingin menyelesaikan proyek itu segera untuk sebuah alasan. Maka menjadi tigalah kewajibanku pada saat itu, yakni kepanitiaan, perusahaan, dan proyek IT. Tapi aku menikmatinya, walaupun akhirnya aku harus menerima sindiran yang tidak sedikit.

Acara telah usai, tetapi meninggalkan pekerjaan rumah yang cukup banyak. Kami harus mengembalikan barang2 dan peralatan2 yang telah dipinjam atau tersisa. Untunglah kawan seperjuanganku, Mulki, ikut membantu mengembalikan barang-barang sisa yang tak jelas lagi mau dikemanakan. Dan tak lupa di tengah kesibukan beres-beres, disempatkan mengembalikan buku ke Gramedia bareng Ayu…

Saving Sanity

Di sisa liburan semester ganjil itu, aku dan bang Ednaz melanjutkan usaha untuk mencari referensi Imagine Cup. Pada saat itu, bang Ednaz mendapatkan sebuah tema yaitu Autisme. Lalu yang terpikir adalah mengunjungi klinik anak Autis. Maka kami segera mencari alamat klinik Autis. Ternyata cukup sulit, mengingat di Medan kasus autisme jarang ditemukan. Tetapi kami yakin bahwa pasti klinik tersebut ada.

Di tengah perjalanan sekitar Jl. Setia Budi, bang Ednaz melihat sebuah klinik pengobatan tradisional. Nah, pada saat itulah dia teringat tentang istilah Iridologi. Iridologi adalah metode pendeteksian penyakit melalui analisis iris mata. Dia pernah mengikuti seminar Iridologi pada waktu SMA dan itu sangat menarik. “Wah, cobalah bang, kayaknya bisa kita buat untuk Imagine Cup itu pake Windows Phone. Putarlah kita ke tempat itu ya.” Akhirnya kami sampai di tempat itu dan mendapatkan informasi yang banyak tentang Iridologi. Namun, sayangnya dokternya sedang tidak berada di tempat dan jika kami berminat mengikuti pelatihannya, kami harus membayar 1.5 juta dan menjalani pelatihan selama 1 bulan. Itu tidak mungkin sebab beberapa saat lagi kami harus balik ke Depok. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan mencari klinik Autis. Setelah berkeliling kota Medan selama 2 jam, akhirnya kami menemukan sebuah klinik Autis di Glugur.

Setibanya di klinik tersebut, kami disambut hangat oleh seorang ibu ibu yang bisa disebut.. ya… sebagai psikiater (kalau tak salah :D). Dia sangat terbuka dengan maksud kedatangan kami. Terjadilah perbincangan hangat dengan ibu tersebut. Dia mengatakan bahwa persoalan Autisme tersebut cukup panjang, sehingga kami perlu datang lagi esoknya, karena esoknya dia akan menunjukkan seorang anak autis dan kami bisa belajar lebih banyak lagi. Baiklah, pertemuan kami pada waktu itu tidak terlalu panjang. Tiba-tiba pada waktu itu, teman saya Afuza nge-sms meminta bantuan kepadaku agar esok bisa mengantarkannya ke bandara sebab ia akan kembali ke Depok.

Pagi esoknya, saya mendatangi kediaman Afuza. Ternyata ada sedikit masalah dengan peralatan bedah kampus kemarin, sehingga aku membantunya mengatur barang-barang sisa bedah kampus. Saking banyaknya, banyak barang yang tersisa harus menginap di rumahku dan sebagiannya lagi aku harus bawa ke Depok. Akhirnya semuanya beres dan kami harus bergegas ke bandara. Di tengah perjalanan, aku menerima panggilan telepon dari bang Ednaz. Ternyata dia sedang menunggu di plaza Palladium, karena itu aku harus nge-race. Tapi kenyataan berbeda di jalan. Yang kutemui adalah macet.  “Wah sial banget, terlambat pula lah si Fuza ini ke bandara. Belum lagi bang Ednaz sudah menelpon berkali-kali.” Untungnya, saat itu bisa terlepas dari macet dengan cukup cepat. Tapi setibanya di plaza Palladium, aku langsung menemukan bang Ednaz dengan mukanya yang sedang tidak bahagia, mungkin karena aku terlambat dan membuatnya menunggu lama. Ya sudahlah pikirku. Perjalanan dilanjutkan ke bandara dengan suasana dingin karena bang Ednaz yang sedang tidak mood.

Setibanya di bandara, skenario perpisahan kembali terjadi. Yang kali ini adalah berpisah dengan sahabat terbaikku. “Ya sudahlah, memang beginilah hidup”, pikirku. Akhirnya tinggallah aku berdua dengan bang Ednaz di mobil. Ya tetap saja suasanannya dingin ditambah lagi dinginnya AC mobil, bang Ednaz tetap tak mau buka bicara. Aku berpikir,”ya sudahlah, jangan sampailah aku yang ikutan ga mood jadi rusak rencana ini. Rencana dijalankan aja belum tentu berhasil, apalagi kalau tidak dijalankan. Minta maaf nanti ajalah kalau sudah selesai misi hari ini.”

Kami sampai di klinik Autis. Kami memang bertemu dengan ibu psikiater itu, tetapi dia tidak bisa mempertemukan kami dengan anak Autis yang ia maksud kemarin sebab kami datang terlalu siang. “Ya sudahlah.” Tapi untungnya ibu itu baik, dia dengan rela dan kerja keras menjelaskan masalah tentang autisme tersebut, sehingga kami mendapatkan ide dan bahan yang bisa dijadikan dasar pembuatan alat bantu anak Autis dengan menggunakan tablet Windows atau Windows Phone saja. Hari itu berjalan sukses walaupun agak ada slek dengan bang Ednaz :p dan lantas aku minta maaf ketika pulang dan menjelaskan semuanya.

The End of The Beginning

Kami semua anak UI harus kembali ke Depok. Aku harus berangkat ke bandara dengan barang yang cukup banyak, yakni dua kotak agenda UI yang belum terjual. Well, bukan masalah jika segitu banyaknya asalkan banyak teman-teman yang bisa diajak untuk membagi bebannya. Tetapi terlambat, hal itu baru disadari ketika banyak teman-teman yang sudah pulang. “Ya sudahlah. Cause it’s out of my control.” Aku segera menghubungi teman-teman yang akan berangkat bersama aku, dan ternyata ada Reza dan Fakhrul, yang juga merupakan dua juniorku di fasilkom UI. Alhamdulillah, mereka bersedia membantu aku membawanya, walau tidak semua. Sehingga akhirnya sisanya menyusul dikirim lewat TIKI ke Depok.

Beberapa minggu kemudian, maka digelarlah pertemuan untuk membahas Imagine Cup di perpus pusat UI. Perbincangan yang terjadi sungguh alot. Saking alotnya hingga kami setuju untuk membuat proyek tentang Iridologi. “What? capek-capek ke klinik Autis, udah ketemu ahlinya, jelas masalahnya, tapi mengapa jadinya Iridologi?”. Nah, ada alasan kenapa ganti topik. Iridologi aplikasinya lebih luas dan target penggunanya lebih banyak daripada proyek yang berhubungan dengan Autisme (bukan mengurangi rasa menghargai kepada Autisme ), simple kan. Kami juga sepakat hanya bertiga saja dalam satu tim ini (dengan salah seorang anggota satu lagi bernama Reza) tujuannya agar kerjanya lebih efisien dan setiap anggota bertanggung jawab penuh dalam menjalankan tugas masing-masing. Masalah terakhir adalah nama tim. Perdebatan masalah ini cukup lama hingga akhirnya perpus tutup. “Masalah nama menyusul”, kata bang Ednaz. “Baiklah”, pikirku. Tapi tiba-tiba malam udah ngetweet aja bang Ednaz tentang rencana Imagine Cup ini dilengkapi dengan nama tim kita, MataKaca. Maka resmilah petualangan baru dimulai bersama MataKaca.

Tobe continued

Posted on Sunday, 1 July 2012, in Diary. Bookmark the permalink. 3 Comments.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: