Behind The Scene : IriS Project (part 2)

Behind The Scene : IriS Project (part 1) <sambungan>

Awal Maret, aku bersama teman-teman paguyuban liburan ke Anyer. Alhamdulillah, persiapan untuk itu sudah cukup matang, karena pada desember akhir tahun lalu kami membuat acara serupa tetapi akhirnya batal, jadi sudah ada pengalaman. Liburan Anyer berjalan lancar hingga kami selamat sampai di Depok. Aku sangat bersyukur untuk itu.

Flashback in December 2011 :

Itu adalah bulan-bulan yang sulit dimana semua perencanaanku banyak yang batal. Mungkin itu adalah bulan terberat dimana aku hampir kehilangan harapan hingga orang yang kucintai. Hingga satu-satunya yang kuingat adalah sebuah rapat kerja dan kue ulang tahun. Secercah memori yang tidak hilang dari benakku.

Brute Force

Suatu waktu yang lengang di lobi kampus, aku iseng-iseng mencari tutorial membuat aplikasi sederhana di Windows Phone dengan berbekal panduan dari artikel di internet. Saat itu, aku masih tidak tahu apa-apa tentang Windows Phone. Akhirnya aku memberanikan diri untuk membuat aplikasi berdasarkan tutorial itu. Teman-teman yang berlalu lalang di lobi pun bertanya-tanya tentang yang aku buat. “Lo, buat apa coy?” “Nyoba-nyoba buat aplikasi Windows Phone doang gan” Aplikasi yang bisa kubuat waktu itu hanyalah Hello World dan susahnya minta ampun. Hingga aku hampir tak yakin bisa membuat aplikasi yang lebih bagus dari Hello World ini. Aku harus mendownload installer Windows Phone SDK untuk library pemogramannya, ditambah Windows Phone Development ToolKit untuk melakukan deploy ke Windows Phone (ntar kusingkat WP aja ya). Kedua paket tersebut gedenya pun ga ada obat, bisa hampir 1 GB. Nungguin downloadnya pun minta ampun. Aku terpaksa download karena tidak berhasil menemukan teman-teman yang punya installernya.

Dengan laptop yang sudah terinstal Visual Studio Express, aku mencoba memakai kedua paket tersebut. Aku sebenarnya ga iya juga dengan Visual Studio Express ini, karena ini versi instan dari Visual Studio. Ntar klo ada error akibat kebutuhan komponen lain kan bisa gawat, apalagi kalau sudah di tengah-tengah masa development. Aku udah niat nginstal Visual Studio Ultimate, tapi malas juga, 2 GB ukuran installernya, mau sampai kapan nunggu donlotannya T.T. Dengan berbekal VisStud Express, alhasil, error. Ternyata aku harus menginstal Service Pack Visual Studionya. Download lagi, 700MB. Nunggu lagi. Uninstal SDK dan WPDTnya, lalu instal semuanya bersamaan lagi. Akhirnya, selesai juga. Semua bisa berjalan lancar. Lalu kubuatlah Hello World itu. Nah bagian buat aplikasinya gampang kali. Tinggal klik New, drag icon TextBlock, ketikkan Hello World, dah jadi aplikasinya😀 *nangis darah

Aku sadar bahwa mempelajari pembuatan aplikasi Windows Phone tidak mudah. Aku harus belajar pemograman C#, dan itu adalah hal yang baru buatku. Aku sempatkan waktu untuk membeli buku tutorial pemograman Windows Phone. Bukunya cukup bagus walau besar bukunya tak sebanding dengan harganya yang cukup mahal. “Ya sudahlah. Mungkin inilah arti pengorbanan itu” Aku menyisihkan beberapa rupiah dari uang bulanan untuk membeli buku itu. Aku sedikit demi sedikit belajar membuat layout berdasarkan ilmu yang didapat dari buku itu. Dan tak disangka, aku berhasil membuat layout IriS yang pertama. Bisa dirasakan, di kondisi ini, aku seperti sedang berusaha menyalakan lilin di tengah kegelapan dan hembusan angin *halah.

Detik-detik menuju deadline terus bergulir. Akhirnya pada suatu malam yang dingin di kampus, aku dipanggil bang Ednaz untuk kumpul menyelesaikan Project Documentation Imagine Cup. Pada waktu itu, aku baru menyelesaikan layout dasar dari IriS. Tampilannya sederhana banget kalo dibilang dan itu baru dummy aja. “Ya udah, gapapa ki”, kata bang Ednaz. “Okelah bang, berarti kita buat ajalah video tutorial pembuatannya ya.” “Ya.”

“Oh ya nama aplikasinya apa bang?”

“IriS aja”

Malam itu kami berjuang membuat video profile MataKaca dan Documentation Sheetnya IriS ala kadarnya.

“Ki, besok ko ada waktu ga ke Microsoft?”

“Boleh, mau jam berapa bang?”

“Pagilah, sekitar jam 7 aku jemput kau di stasiun. Kita antar ini ke Microsoft”

“Okelah bang.”

Jadi besoknya kami pergi ke Microsoft jam 8. Dengan modal kendaraan kereta *istilah ”motor” bagi orang Medan, kami menyongsong jalanan kota Jakarta. Ketemu macet pula di jalan menuju Pasar Minggu. Otomatis makin lama pula kami bakal sampai. Di tangan sudah siap-siap pegang hape dengan layar sudah nampil pesan isinya, ”Gan, tolong titip absen yak”. Akhirnya, dengan situasi yang tidak menentu, aku menekan tombol “Send”. Selamatlah satu matkul di hari itu dengan balasan “Oke gan”. Sebenarnya mau nangis karena aku harus melewatkan matkul kesayanganku, OS, dengan dosen yang paling unyu sedunia.

Intermezo :

Dosen OS. Belajar dengan bapak satu ini sangat berbeda dengan yang lain. Salah satu fitur yang amazing matkul itu punya adalah Kupon Nilai. Bagiku, kupon itu adalah sumber daya nilai yang paling bisa kuandalkan. Aku selalu berusaha mendapatkan kupon, agar nantinya ini bisa menjadi backup atas nilaiku, karena aku tahu aku tak akan perform better di matkul ini, aku yakin bakal sibuk. Untuk mendapatkan kupon, kita harus menjawab pertanyaan yang diajukan dosen. Satu kejadian yang paling menarik adalah ketika aku duduk di pojok, lalu aku mendapatkan kupon. You know, dosen harus melewati belantara mahasiswa yang duduk rapat di depan. Dia harus berjuang mengantarkan kupon tersebut. Sebenarnya di sini aku merasa bersalah, tetapi geli juga. Ya, kita pikiran positif, semoga pak dosen banyak olahraga. Itu aja. Maafkan saya pak, tp yang penting ane udah memberikan hal yang positif buat bapak😀

Oke lanjut perjalanan ke kantor Microsoft. Untunglah dengan kesabaran, kami selamat sampai di Sudirman. Berada di daerah situ berasa seperti di luar negeri, ada orang kantoran yang sibuk berlalu lalang di trotoar, jalanan bersih, benyak gedung-gedung pencakar langit, banyak pula orang bule, dan pernak-pernik kota luar negeri pada umumnya kayak di film-film *lagi2 film. Kami masuk ke gedung IDX (Indonesia Stock Exchange). Kantor Microsoft bertempat di sana. Kami naik ke lantai 50-an kalo ga salah. Lift berhenti, dan ketika terbuka, di depan kami langsung terpampang logo Microsoft yang mengagumkan itu. Kami langsung ketemu satpamnya.

“Mas, ini kami dari tim Matakaca mau kasih dokumen lomba.”

“Oh, ini buat lomba Amazing Cup ya.” <– alamak *facepalm. “Oh, iya, gapapa mas, tinggal di sini aja dokumennya. Nanti disampaikan kepada Pak Julius”

“Oh gitu ya. Oke”

Dan aku ingat keberadaan kami di sana hanya 5 menit, tujuannya untuk memberikan Dokumentasi Imagine Cup ke Microsoft saja. Just it and nothing more.

“Oke ki, urusan dokumentasi udah selesai. Tinggal berdoa ajalah. Semoga kita lolos tahap penyisihan”

“Iya bang, Insyaallah.” <– suer, pada waktu itu mengatakan kalimat ini berat, karena bagi aku, jika lolos maka tantangan besar menanti.

Dan benar, Allah berkehendak, kami lolos ke 20 besar. Alhamdulillah.

To be continued

Posted on Monday, 2 July 2012, in Diary. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Comments are closed.

%d bloggers like this: