Hakikat Kesendirian

Akhir-akhir ini saya sering menyendiri karena mencari tahu hal tersebut. Berikut akan saya deskripsikan kesendirian menurut pemahaman saya. Penjelasan berikut hanya terbatas pada hal psikologis. Mohon maklum jika ada kekurangan dalam penulisan ini.
Kesendirian merupakan sebuah fenomena yang sering manusia hadapi. Kesendirian tidak hanya terjadi pada orangtua, tetapi juga anak-anak dan remaja. Kesendirian itu dapat terjadi karena manusia tersebut memang memiliki sedikit relasi, secara insidental sedang sendiri, atau memang sengaja menyendiri ketika lingkungan di sekitarnya memiliki cukup banyak orang mengenalnya.
Merasa sendiri bagi beberapa orang tidak menyenangkan jika tidak membutuhkannya. Untuk mengatasi kesendirian itu, ada manusia yang segera memanggil teman atau bergabung dengan kelompoknya, tetapi ada manusia lain yang tidak demikian. Ada orang yang memang sengaja mempertahankan kesendiriannya dengan alasan dan tujuan tertentu.
Kesendirian yang disengaja memang hal yang tidak mudah dipahami oleh banyak orang. Sifat kesendirian seperti ini sering disebut dengan introvert. Kesendirian yang disengaja ini dapat diakibatkan oleh berbagai hal psikologis. Saya uraikan alasan tersebut secara praktis, maksudnya mungkin terdapat faktor berpengaruh yang lain sebanyak 50 persen. Alasan tersebut ada yang bersifat positif dan ada pula yang negatif. Yang positif dapat berupa berikut :
1. Kesadaran bahwa bekerja sendiri lebih efektif daripada bekerja kelompok.
2. Kesadaran akan lingkungan yang tidak meningkatkan mutu diri.
3. Kesadaran akan pentingnya mengejar ketertinggalan, ketika lingkungan lebih baik daripada kita.
Alasan negatifnya mungkin cukup banyak, sehingga tidak perlu disebutkan satu-persatu dan tidak akan dibahas di tulisan ini.
Alasan di atas ternyata masih belum cukup menjelaskan mengapa orang ingin menyendiri. Lantas untuk mencari tahu hal ini, saya melakukan sebuah observasi. Saya memiliki sebuah paguyuban daerah yang beranggotakan mahasiswa segala fakultas di kampus. Saat ini kebetulan saya sedang menjabat sebagai ketua. Sebagai ketua, saya mengamati anggota saya. Hasilnya, ada yang pasif dan ada pula yang aktif. Saya memaklumi hal tersebut. Banyak dari anggota yang pasif tersebut (lebih dari 50 persen) ternyata sering menyendiri, walaupun anggota yang aktif lebih banyak. Saya memiliki ketertarikan untuk mencari tahu alasan mengapa hal tersebut dapat terjadi.
Dalam percobaan tersebut, pertama-tama saya mencoba mencari tahu alasan dari teman-teman yang suka menyendiri tersebut. Banyak dari mereka (lebih dari 50 persen) ternyata beralasan positif, dan sebagian sisanya beralasan negatif. Tentunya dengan ini saya sangat bersyukur karena anggota saya baik-baik sajašŸ˜€ Walaupun begitu, saya belum puas dengan jawaban tersebut, kemudian saya mencoba berpura-pura menyendiri (walaupun tidak enak) Sejak saat itu, beberapa orang menganggap sesuatu yang aneh terjadi pada saya. Proses ini saya jalani cukup lama. Akhirnya, dari hal ini saya benar-benar merasakan sebuah paradigma baru. Dengan kesendirian, orang dapat menerima pelajaran dengan baik dan berpikir jernih.
Dari hal tersebut saya belajar bahwa pengaruh atensi dari orang luar dapat mempengaruhi konsentrasi seseorang. Mungkin orang introvert yang kerap kita anggap aneh, dapat saja berbicara dengan lancar atau bahkan bisa “public speaking” dengan luar biasa ketika ia sedang sendiri. Orang introvert dapat melakukan hal berkualitas yang sama dengan orang ekstrovert. Perbedaannya adalah lingkungan introvert tidak boleh ada atensi orang lain secara langsung, sedangkan orang ekstrovert tidak terpengaruh dengan atensi orang lain. Hal ini dapat menjelaskan mengapa beberapa orang lebih baik bekerja atau belajar sendiri dibandingkan dengan bersama-sama. Bukankah Nabi Muhammad SAW juga pernah menyendiri di gua hira ketika mendapatkan wahyu dari Allah SWT yang kemudian menjadi dasar agama Islam? Yang jelas, sifat ini dibutuhkan untuk mendapatkan ilmu. Orang-orang introvert lebih mengerti akan kelebihan ini, ketimbang menjadi ekstrovert. Tetapi, pada dasarnya dalam hidup, untuk mencapai tujuan yang besar, kita tidak dapat bekerja sendiri, kita harus bekerja sama. Ketika kita memiliki kemampuan yang cukup dan tujuan yang sama, maka saatnya lah kita bersatu. Orang introvert berpotensi menjadi orang yang lebih besar ketika menjadi ekstrovert, jika dia dapat memahami adanya kelebihan lain menjadi ekstrovert, dengan konsekuensi bahwa ia akan meninggalkanĀ  sifat introvert yang sebelumnya ia anggap sebagai domain atau “rumah”.
Kita tidak bisa memaksa orang introvert berubah menjadi ekstrovert. Perubahan tersebut hanya bisa dilakukan jika orang introvert tersebut secara sadar memerlukan performanya untuk dapat tampil di depan atensi banyak orang. Artinya, kita mempersilahkan orang tersebut untuk mengembangkan bakatnya, kemudian setelah cukup waktu, menyadarkannya dan membantunya untuk mengaplikasikan kemampuan tersebut.
Jika kita belum cukup ilmu, wajarlah menyendiri untuk belajar. Tetapi akan tiba waktunya bagi kita untuk mengamalkannya.
Demikian. Uraian di atas mungkin masih hipotesis, sehingga mungkin masih mengandung beberapa kekurangan. Semoga dapat menginspirasi. Sekian.

Posted on Sunday, 23 September 2012, in 1. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Comments are closed.

%d bloggers like this: