Demi Masa

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (Al-Ashr)

“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka didunia dengan sempurna dan mereka didunia itu tidak akan dirugikan.Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka dan lenyaplah diakhirat itu apa yang telah mereka usahakan didunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.”(QS. Hud: 15 -16)

Hari ini, tidak tahu bagaimana inspirasi ini datang, tetapi lebih baik saya tuliskan sekarang daripada nanti lupa.

Sejak kecil saya mengetahui tentang idiom “Dunia kita sebelum mati adalah dunia fana, ya kita sedang hidup di dunia fana”. Saya kenal idiom ini pertama kali ketika SD. Saat itu, teman saya sedang lesu, karena dia suka sama seorang cewe, tapi dia sendiri mengaku parasnya sendiri terbilang pas-pasan (yah ane hanya bisa kasih semangat tapi kasih puk-puk juga). Lalu, datang teman saya yang lain datang, lalu bertanya kepadanya. “Hoi, ndut. Kenapa sedih kali kau?” “Aku sedih kali, dunia ini memang fana”. Ini membuat saya tertegun, mantap sekali kata-katanya. Sejak saat itu, saya terus mengingat idiom ini, karena setiap berpapasan empat mata dengan seorang sister¹, saya langsung berpaling muka, teringat teman saya yang satu itu lalu muncullah idiom ini dalam benak saya (serasa kena wangsit). Lalu saya ikutan mempercayai idiom ini, karena banyak orang menyebutkan demikian.

Terkadang saya berpikir ini kata-kata ini hanya sebatas kepercayaan yang hanya menyangkut di alam pikiran bawah sadar, bukan kesadaran yang meresap ke alam sadar sehingga logika kita tersentuh. Tetapi kali ini, saya akhirnya meyakini ini logika dan fakta.

Ya, dunia ini fana, karena kita terhubung dengan dunia nyata melalui panca indra kita. Faktanya, rangsangan panca indra sampai ke nalar kita dengan cara merambat. Ini berarti apa yang anda rasakan adalah dunia beberapa nanosekon yang lalu. Baiklah panca indra itu hanya milik makhluk hidup. Tetapi ada hal yang lebih umum mengapa dunia ini fana menurut saya.

Coba pandang rumus ini. Kalau anda mencermati rumus ini, anda pasti tahu siapa penemunya. Yang jelas bukan saya.

E = mc^2 \,\! (courtesy of Wikipedia)

Di sini c didefinisikan sebagai kecepatan cahaya. Anda tahu artinya, cahaya itu merambat atau dengan kata lain dapat berpindah. Ya, sebuah benda dapat terlihat jika cahaya pantulan dari benda tersebut berhasil sampai di mata. Ada sebuah jurang waktu, walaupun sangat kecil. Sekecil apa pun waktu rambatan itu, tetaplah waktu. Hal ini menyingkap sebuah fakta bahwa apa yang terlihat di dunia ini adalah kejadian sepermiliar detik yang lalu, tidak hanya oleh kita, tetapi siapapun yang merasakannya.

Ada satu hal lagi yang ingin saya katakan dari fakta ini, yaitu waktu. Perhatikan bahwa di atas hanya ada kecepatan dan massa. Hipotesis saya di dunia ini hanya ada dua kenyataan, hanya ada partikel yang kecil sekali yang mengalahkan atom (karena mempercayai atom sebagai elemen terkecil di dunia ini belum cukup ternyata) dan arusnya yang secepat cahaya. Dalam kehidupan  manusia, waktu terdefinisi sebagai sesuatu yang terukur dan dinyatakan dengan detik. Berikut adalah definisi waktu dari Wikipedia (saya ambil dari Wiki karena ini adalah fakta yang trivial)

Time is a dimension in which events can be ordered from the past through the present into the future, and also the measure of durations of events and the intervals between them.

The second is the duration of 9,192,631,770 periods of the radiation corresponding to the transition between the two hyperfine levels of the ground state of the caesium 133 atom.

Sehingga waktu yang ada saat ini hanyalah definisi manusia, sebab waktu tersebut diukur dari perpindahan. Dengan kata lain, waktu di dunia manusia adalah relatif. Alhasil, ini sebuah kenyataan yang paling pahit selama saya hidup sebagai manusia. Hal ini menyebabkan saya dapat berasumsi bahwa ada definisi lain tentang waktu, yang lain dan tak bukan itu adalah definisi dari Allah SWT, yaitu masa. Ada beberapa sumber Hadits yang menyatakan bahwa kehidupan di akhirat (domain Allah SWT), 1 harinya sebanding dengan 1000 tahun di dunia (wew yang benar saja). Tetapi ini adalah hipotesis logika, mungkin benar adanya (dan ini dapat diyakini di saat kita sendiri memang galau tentang definisi waktu oleh kita sendiri). Atas ketidakpastian dalam dunia ini, saya beranggapan adalah kehidupan ini ada kemungkinan lebih cepat atau lebih lambat dari dunia akhirat. Worst casenya, dunia kita ini lebih cepat berlalu. Alhasil, jika kita berpikir bahwa hidup ini lama, kita salah. Mungkin saat ini, waktu pada definisi yang sebenarnya, jika terukur mungkin telah banyak masa kita sia-siakan. Oleh karena itu, tidak heran mengapa surat Al-Ashr turun, mungkin manusia salah tentang konsep waktu. Kita tidak dapat menunda berbuat baik. Apa pun itu, berbuat baiklah sesegera mungkin atau kalau bisa jadilah pribadi sebaik mungkin.

Sekian.

¹ beautiful woman

Posted on Monday, 29 April 2013, in Filsafat. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Comments are closed.

%d bloggers like this: