Tak Ada Pilihan yang Lebih Baik Selain Menempa Mental

Ntah kenapa terpikir di benak saya tentang kemiskinan di Indonesia. Diawali saat saya makan makan di suatu warung. Kemudian, seorang anak dengan baju yang lusuh datang ke saya. Dia dengan bahasa tubuhnya memberi isyarat yang kedengarannya ia sangat sangat ingin saya membelikannya makanan di warung itu. Saya tahu dia sedang mengemis. Tetapi, saya katakan tidak, sebab saya tidak dapat memberikan uang dengan cara sembarangan. Memberikannya uang secara langsung tidak menyelesaikan masalahnya. Selain itu, saya sebenarnya tahu dia juga kadang-kadang sesekali berkeliaran di sekitar warung tersebut.

Hal ini memperkuat kepercayaan saya bahwa sebenarnya definisi kemiskinan secara hakiki bukanlah masalah materil, tetapi mental. Saya lahir dan tinggal di sebuah kampung di Pulau Nias, Sumatera Utara, sejak tahun 1992. Selama saya berkelana dari ujung ke ujung pulau, saya hampir tidak pernah menemukan yang namanya pengemis. Saya juga sering mengunjungi Balige dan Tarutung, yang notabene adalah daerah kota kecil saat itu, justru saya jarang menemukan pengemis di sana. Saya merenungi apa sebenarnya menjelaskan fenomena seperti ini yang kontras dengan kota-kota besar.

Sumatera Utara didominasi oleh suku Melayu, Batak, dan Nias. Saya adalah campuran antara suku Batak dan Nias. Di suku Batak, hidup itu keras. Pantang bagi seseorang menganggur, tidak bekerja dan bermalas-malasan, meminta-minta ke tempat saudara (apalagi orang lain). Menjadi seorang pengangguran adalah aib bagi keluarga apalagi marganya. Begitu juga dengan suku Nias.

Suatu ketika saya menemukan seseorang diusir saudara kandungnya saat bertamu di rumahnya karena meminta-minta. Sakit memang rasanya diusir saudara sendiri. Saya tahu dia tak punya apa-apa, sudah merantau kemana-mana, merantau pun kalau ada saudara yang kasih duit, sudah pun merantau masih juga menganggur, kasihan rasanya, tetapi begitulah budayanya. Tetapi itu justru mengubah kehidupan orang tersebut tahap demi tahap. Kini dia sudah menikah dan punya rumah sendiri berkat usaha kerasnya. Usiran dari saudaranya ternyata telah menjadi “asupan” mental baginya, yang menguatkan semangat hidupnya. Satu nilai moral yang saya dapatkan adalah orang tak akan mati karena tidak punya uang atau kelaparan, justru karena tempaan mental yang kuat seseorang dapat bertahan hidup. Tak ada pemberian yang lebih baik dari asupan mental.

Demikian yang dapat saya ceritakan. Anda dapat menyimpulkan tujuan saya menceritakan hal ini. Ini bukan sindiran atau menonjolkan SARA. Just a food for thought. Pandanglah secara objektif, karena dengan cara tersebut kita dapat mengambil solusi yang baik bagi kehidupan kita. Saya yakin kita selalu punya kesempatan untuk bangkit dan berkembang. Oleh karena itu, mari kita belajar dan saling menasehati untuk kebaikan sesama. Sekian.

Posted on Thursday, 27 June 2013, in 1 and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Comments are closed.

%d bloggers like this: