Bon Voyage (Day 0)

Hari yang ditunggu pun tiba. Setelah semalam sebelumnya, saya sibuk kemana-mana, kali ini saya harus bersiap untuk bangun pada esok paginya pukul 03.00 WIB. Sengaja bangun pagi-pagi agar tidak terlambat check-in, karena selain berangkat pukul 08.30 WIB, tetapi juga karena ini pengalaman saya pertama overseas, maklum :)). Saya, Ayah saya, dan teman saya, Yudha, berangkat naik taksi ke bandara pada pukul 04.00 WIB  dan tiba pada pukul 04.45 WIB. Tak lama kemudian, teman saya yang lain, Kemal, datang juga. Setelah sholat subuh, kami check-in, Waktu check-in dan cek imigrasi ternyata cukup lama, sekitar 30 menit.

Pesawat kami transit terlebih dahulu di Malaysia. Di Malaysia, saya ketemu dengan seorang warga negara Jepang dan beliau bertanya kepada saya seputar gitar saya. Kok gitar? Iya, saya memang sedang membawa gitar ke Jepang saat itu. Jadi, beliau bertanya apakah gitar boleh dibawa masuk ke kabin. Saya mengiyakan. Beliau akhirnya menceritakan pengalamannya masa lalu. Beliau ternyata seorang gitaris jazz. Hmm, bisa juga. Beliau berargumen bahwa menurut aturan, gitar ukurannya melebihi batasan ukuran. Seharusnya secara teori tidak bisa dimasukkan ke kabin. Oleh karena itu, beliau tidak pernah bisa membawa gitar, padahal ia ingin sekali. Namun, saya hanya bisa bilang bahwa dari awalnya memang tidak dilarang, padahal sebenarnya saya mengetahui pengalaman-pengalaman pemusik yang pernah ke Jepang bahwa sah-sah saja membawa gitar ke kabin, karena selain masih bisa diatur posisinya di kabin, bermusik adalah hak setiap orang dan tak mungkin gitar yang hanya disarungi dimasukkan ke bagasi, bisa rusak. Akhirnya beliau hanya mengangguk setuju dan berubah pikiran kalau senadainya ia pergi abroad ia akan membawa gitar. Hmmm, good.

Beliau juga bercerita bahwa ia berasal dari Saitama Prefecture. Namun, ia tinggal di Thailand. Dia menilai lebih baik baginya tinggal di Thailand untuk menjaga istrinya yang sedang mengandung karena iklimnya yang stabil. Kenapa tidak di Saitama? Ya, beliau mengatakan di Saitama cuacanya kurang bersahabat. Saya sebenarnya tidak mengerti bagaimana Saitama itu, tapi ya sudahlah, mungkin saya akan tahu kemudian. Akhirnya, kami dipanggil naik pesawat dan terbang ke Haneda.

Perjalanan dari Malaysia ke Haneda memakan waktu sekitar 6 jam. Kami tiba di Haneda sekitar jam 10.30 PM waktu Tokyo. Bandara Haneda lumayan Bagus, seperti yang diceritakan orang-orang.

053

Jalan menuju pengecekan imigrasi. Maaf agak buram.

Kami bertemu petugas imigrasi untuk mengecek paspor dan Certificate of Eligibility (CoE) kami, kemudian membuat residence card. Nah apa itu CoE? CoE itu adalah surat yang menjelaskan bahwa yang bersangkutan diterima pemerintah Jepang untuk datang ke Jepang. Namun, CoE bukan penjamin Anda bisa masuk Jepang, hanya visalah yang bisa. Bahkan, untuk mengurus visa syaratnya harus punya CoE terlebih dahulu. Jadi, sebelum masuk Jepang, Anda harus sudah punya CoE dan visa. Lalu residence card itu apa? Residence card itu kartu yang menjelaskan Anda adalah pemukim Jepang.

Setelah selesai berurusan dengan petugas, kami menuju ruang kedatangannya. Ternyata lamayan kondusif, bisa untuk tidur. Kami berebut kursi empuk.

058

Satu yang perlu diketahui adalah toilet Bandara Haneda itu gak ada obat, hitech bung. Sayangnya saya belum sempat mengabadikannya, karena keenakan di toilet, jadi lupa bawa kamera ke dalam. Kalau mampir di toiletnya, Anda akan melihat tombol ini.

Haneda Airport toilet

Itu tombol-tombolnya punya fungsi masing-masing, yang warna biru dan pink itu nyemprot layaknya bebersih habis buang air. Semprotannya pun beda-beda, tergantung jenis buang airnya. Kalau besar, pake tombol biru. Kalau kecil, pake tombol pink. Yang kuning itu untuk mengeringkan… ya taulah. Yang orange untuk memberhentikan salah satu operasi. Yang tombol terlihat hitam (sebenarnya silver) itu untuk ngeflush. Itu ada tombol-tombol kecil di bawahnya bisa ngatur suhu air dan kekuatan semprotannya.

Untuk sholat, di Haneda tak ada musholla atau bahasa internasionalnya, prayer room. Jadi kami sholat di sembarang tempat saja. Tak apa-apa, itu wajar bagi muslim di Jepang.

Ya itu saja yang bisa saya ceritakan. Kami harus tidur untuk melanjutkan perjalanan keesokan harinya ke asrama. See ya at next post.

(didokumentasikan pada 12 September 2013)

Posted on Monday, 16 September 2013, in 1, Diary and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Comments are closed.

%d bloggers like this: