Yang Terlupakan

Di sela kesibukan bekerja, banyak hal yang mulai terlupakan.

Mengurus keperluan sehari-hari…

Merencanakan kegiatan akhir pekan…

Tiba-tiba telpon berdering…

“Halo, Ibu. Apa kabar Bu?”

“Baik-baik saja nak”

“Alhamdulillah. Lama tidak mendengar kabar Ibu.”

“Nenekmu berkunjung ke rumah minggu ini. Ndak mau pulang ke rumah juga?”

“Mau Bu. Insyaallah. Saya akan mengunjungi kalian minggu ini. ”

Akhirnya anak muda tersebut pulang ke rumah.

Sampailah ia di rumah dan mengucap salam kepada seisinya.

“Assalamulaikum”

“Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh”, jawab seorang nenek dengan lirihnya.

Tiba-tiba di pikiran anak muda tersebut terlintas kenangan masa kecil…

Seorang nenek duduk memangku cucunya seorang diri…

Menyanyikan lagu sebelum dia tertidur..

Menemani si cucu bermain di waktu siang…

Senyum nenek terlihat sangat bahagia…

23 tahun berlalu, kini sang nenek semakin tua…

Kini sakit-sakitan…

Terkadang ia lupa apa yang mau ia lakukan…

Tak semua hal yang terlupa, yang masih teringat adalah wajah cucunya yang sudah menjadi seorang pemuda…

Sang cucu akhirnya bertemu kembali dengan nenek…

Nenek pun tersenyum…

Senyum itu seperti senyum 23 tahun yang lalu…

Si cucu tak ikut tersenyum, malah bersedih…

“Apa yang engkau tangisi nak?”, tanya nenek.

“Aku tak tahu bagaimana aku bisa membalas apa yang telah engkau berikan di masa lalu”, jawab si cucu.

“Hal itu tak perlu engkau khawatirkan. Berjumpa denganmu sudah membuatku bahagia.”

“Betapa ruginya aku. Setiap hari aku bekerja, tak pernah sempat memikirkan kalian semua. Mengapa baru ditelpon aku baru teringat pulang ke rumah. Tak ada tempat yang lebih damai, selain berada di rumah ini bersama kalian.”

“Jangan disesali nak. Kini engkau sudah di sini. Nikmatilah selagi engkau bisa. Mungkin kita tak pernah bertemu lagi.”

“Aku khawatir pertemuan kita akan sesingkat ini.”

“Beginilah kehidupan nak. Ada awal dan ada juga akhir. Kita mungkin tidak akan berjumpa lagi. Tetapi ingat, janganlah kenyataan ini membuatmu lupa. Apa yang telah kuberikan di masa lalu teruskanlah ke generasimu selanjutnya. Ia tak akan pernah tergantikan oleh uang. Ia juga tak bisa dibeli dengan uang. Ia datang tak memandang miskin atau kaya. Tak semua orang bisa memberikannya sembarangan, bahkan jika engkau memberikannya segunung uang. Kau tahu apa itu? Kasih sayang. Berikanlah selagi engkau masih berada di dunia.”

Sang cucu pun akhirnya tersenyum, lalu memeluk neneknya erat seakan hari esok tak pernah ada.

 

 

 

Posted on Tuesday, 9 May 2017, in Main. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Comments are closed.

%d bloggers like this: