Author Archives: rizkivmaster

Jalan Lain ke Jakarta

Sebagai pengguna kendaraan umum di Jakarta, khususnya seperti Busway dan KRL, masih sulit rasanya mencari rute kendaraan umum yang tepat kalau ingin pergi ke suatu tempat di Jakarta. Contohnya, sewaktu pertama kali bekerja, saya harus cari tahu rute dari Stasiun Universitas Indonesia ke Halte Slipi Kemanggisan, yaitu halte yang paling dekat dengan tempat saya bekerja. Saya coba menggunakan Google Maps, tetapi masih kurang tepat. Misalnya, saya cari dengan rute yang sama, aplikasi memberikan saran rute yang mengharuskan berjalan kaki dari stasiun kereta, padahal ada halte busway yang dekat tempat bekerja.

media-20151203

Hasil pencarian Google Maps untuk rute dari Stasiun Universitas Indonesia menuju Halte Slipi Kemanggisan. Google Maps menyarankan untuk melewati Stasiun Tanah Abang, lalu ke Stasiun Palmerah, dan akhirnya jalan kaki ke Halte Slipi Kemanggisan.

Saya mencari-cari informasi tentang rute busway di Wikipedia dan ternyata ada serta lumayan lengkap. Baru-baru ini kita juga bisa mengetahui lokasi busway melalui situs http://www.smartcityjakarta.com. Sayangnya, informasi yang tersedia banyak sekali dan independen dengan informasi transportasi jenis lain, misalnya KRL. Sulit rasanya kalau harus membuka beberapa halaman Wikipedia untuk mencari tahu naik apa untuk pergi dari X ke Y. Berdasarkan kenyataan ini, saya iseng-iseng untuk membuat aplikasi yang menggabungkan semua informasi ini. Linknya ada di tautan ini.

Screenshot from 2015-12-03 22:05:28

Aplikasi ini saya namakan Meloentjoer (baca: meluncur). Mimpinya, pemakainya bisa pergi bebas kemana saja di Jakarta tanpa hambatan layaknya roket yang melesat ke langit. Terdengar begitu hiperbola ya, never mind, namanya mimpi. Selaras dengan latar belakang tadi, informasi dari aplikasi ini tidak saya yang buat atau reka-reka, tetapi murni menggunakan informasi yang ada di Wikipedia.

Saya mencoba-coba bermacam-macam rute dan menemukan beberapa hal menarik. Misalnya, rute dari Halte Bendungan Hilir ke Stasiun Universitas Indonesia. Biasanya saya melewati Halte Cikoko Cawang. Namun, ternyata ada jalan lainnya, yaitu melewati Stasiun Sudirman. Kelebihan rute tersebut dibandingkan sebelumnya belum tahu, tetapi bisa dijadikan alternatif kalau salah satu jalur tidak bisa diandalkan. Rute-rute alternatif juga saya temukan di hasil pencarian yang lain. Misalnya dari Halte Ancol ke Stasiun Bogor, ada rute yang melewati Stasiun Kampung Bandan dan ada pula yang melewati Halte Matraman lalu ke Stasiun Manggarai.

Anyway, baru inilah yang bisa saya buat. Dan perlu dicatat bahwa harga dan waktu estimasi yang tertera masih belum akurat. Ke depannya akan diperbaiki. Semoga bisa membantu saudara-saudara yang suka transportasi umum Jakarta, khususnya Busway dan KRL. Kritik dan saran yang membangun akan diterima dengan lapang dada.

Salam.

Kabut Asap 2.3

Hari ini tanggal 23 Oktober, langit di luar kantor terlihat berkabut asap. Akhir-akhir ini sering mendengar berita tentang kabut asap. Saya penasaran seperti apa kabut asap yang diberitakan media. Saya teringat dengan kerjaan pengolahan citra satelit dulu sewaktu di Jepang dan akhirnya membuka situs ini lagi untuk mengetahuinya.
https://earthdata.nasa.gov/labs/worldview/?p=geographic&l=MODIS_Aqua_CorrectedReflectance_TrueColor%28hidden%29,MODIS_Terra_CorrectedReflectance_TrueColor,Reference_Labels%28hidden%29,Reference_Features%28hidden%29,Coastlines&t=2015-10-04&v=95.5583258978186,-9.169830684187254,119.5700446478186,2.045013065812747

Hampir seluruh bagian Pulau Sumatera dan Kalimantan ditutupi asap pada tanggal 20 Oktober 2015

Hampir seluruh bagian Pulau Sumatera dan Kalimantan ditutupi asap pada tanggal 4 Oktober 2015

Bisa Anda lihat sendiri di situsnya, pada awal Oktober 2015, ternyata kabut asap kita memang parah. Hampir seluruh bagian Pulau Sumatera dan Kalimantan tertutupi asap.

Kenapa ada kabut asap ya? Saya dengar dari berita ada beberapa perusahaan setempat yang sengaja membakar lahan, dan kebakaran tersebut dibiarkan menjalar kemana-mana. Kalau ada kebakaran, ya seharusnya dipadamkan *ya iyalah. Namun, masalahnya berita kebakaran ini baru terdengar setelah penduduk di sekitar menyadarinya dan seketika itu pula kebakaran sudah kian meluas. Dan semakin luas kebakaran, semakin sulit pula kebakaran dipadamkan. Jadi, lebih baik mengetahui kebakaran dan bertindak lebih awal sebelum terlambat. Dan pelaku pembakarannya bisa cepat ditangkap dan diadili.

Saya tidak tahu sejauh apa NASA punya data, tetapi berdasarkan pengalaman dulu, data yang mereka sediakan cukup untuk membuat sistem deteksi kebakaran lahan dan pemantauan wilayah muka bumi seluruh Indonesia lebih cepat dan otomatis. Harapan saya di masa mendatang, kejadian seperti ini tidak terlupakan dan terulang kembali.

Bagaimana menurut Anda tentang kabut asap ini?

random thing #2

Hari ini cerah sekali, terlebih lagi hari ini adalah hari Sabtu. Setelah bangun pagi, hal yang paling menyenangkan adalah duduk di depan jendela, memandangi langit biru di luar sana.

Oh musim semi....

Oh musim semi….

Setelah puas pikiran terbang ke langit biru, perhatian kembali tertuju ke dalam ruangan. Aku melihat ke atas meja, tergeletak sebuah Raspberry Pi (RPi) beserta beberapa komponen elektronik, seperti servo kecil dan perkabelannya. RPi ini aku pinjam dari teman sekamar, kak Firman. Tak disangka-disangka dia membawa RPi. Daripada RPi nganggur, dan aku juga sering nganggur di kamar, jadilah kami bersahabat (Aku dan RPi), dirasa aneh memang. Ya sudahlah. Semoga kak Firman dapat pahala.

RPi dan komponen lainnya

RPi dan komponen lainnya

Sebelumnya, pernah main-main Raspberry Pi di kuliah System Programming. RPi agak aneh memang, soalnya ada GPIOnya, sedangkan di kuliah itu, kami memakai RPi layaknya komputer biasa. Ternyata GPIO itu mirip pin IO di microcontroller. Dulu pernah main-main dengan servo, tetapi saat itu menggunakan microcontroller. Terpikir seperti ini, apakah bisa mengendalikan servo dengan RPi. Kayak-kayaknya bisa aja, jadi terpikir kenapa ga dicoba aja. Akhirnya, memutuskan untuk mengutak-atik si RPi dan servo. Kemudian, saya coba threading, lalu memindahkan akses RPi dari LAN ke Wifi. Hasilnya seperti ini.

PWM diproduksi dengan memanipulasi kode untuk mengatur GPIO. Proses flip-flop LED dan mengendalikan servo dilakukan secara independen dengan menggunakan threading Python. Proses koding dilakukan secara remote melalui Wifi dengan menggunakan SSH. Alhasil, servo dan LED dapat dikendalikan secara remote.

Dari keisengan itu, saya berpikir Raspberry Pi mungkin bisa menjadi alternatif dari Arduino. Kalau dipikir-pikir, Arduino memiliki clock speed 16 Mhz, sedangkan RPi, menurut Wikipediaclock speednya sekitar 700 Mhz. Menurut sampling theorem, untuk merekonstruksi kembali sinyal yang diproduksi source (programmed PWM) W, frekuensi modulasi (processing signal) F harus lebih dari 2W. Di sini, F adalah clock speed RPi, sedangkan W adalah clock speed Arduino.

Hal tersebut berarti kita dapat menyimulasikan sinyal PWM Arduino, dimana the highest bandwidthnya atau secepat-cepatnya PWM yang bisa dibuat adalah 16 Mhz, maka kecepatan minimal yang dibutuhkan RPi adalah 2*16 Mhz = 32 Mhz, sedangkan RPi lebih cepat daripada itu. Ditambah lagi dengan kemampuan multi threading dari Linux untuk mengendalikan setiap pin GPIO secara independen. Sebenarnya yang belum terjawab adalah bergetarnya servo saat sudah berada di posisi yang diinginkan. Itu belum diselidiki. Satu dugaan adalah proses switching pada RPi menyebabkan ketidakstabilan frekuensi PWM yang diinginkan. Banyaknya proses dalam RPi sendiri dapat menyebabkan CPU menjadi sibuk dan switching ke proses untuk produksi PWM menjadi sedikit lebih lama dari yang normalnya atau dengan kata lain terjadi delay. Namun, karena clock speed RPi jauh lebih besar dari clock speed minimal yang dibutuhkan , delay switching tersebut dapat di-ignore. Ya, begitulah Sabtu saya hari ini. Sekian.

Oh ya, malam ini malam Minggu. Untuk kalian dimana pun berada, pesan dari mimin “Have a nice day! Have fun!”😀

@r_gkt

random thing #1

Hari ini, di Jepang sedang libur nasional. Saking karena bingungnya mau jalan kemana, saya memutuskan untuk tidak jalan kemana-mana. Terpikir sesuatu yang random membuat percobaan mengirim sinyal audio lewat cahaya. Suaranya tidak terlalu gede dan agak noisy. Untuk selanjutnya, perlu diberi filter.

Komponen yang diperlukan cukup sederhana, yaitu LED, photodiode, resistor, dan Op-Amp LM741CN.

Akhir-akhir ini saya sedang tertarik oprek-oprek elektronika. Sewaktu kecil, saya ingin sekali belajar elektronika. Saat saya masih TK di Nias, sekitar umur 4 tahun, saya pernah bermain dengan kabel listrik dan terkena setrum gara-gara memegang tembaga kabel yang terbuka. Karena masih kecil, sensasi kesetrum tersebut tak pernah tercurhatkan kepada orang tua, karena maklum waktu itu masih ngga mengerti cara ngomonginnya :))

Abang dan paman saya lulusan teknik elektro. Terkadang abang saya menunjukkan kerjaan kuliahnya tentang sirkuit elektronik. Sirkuit pertama yang saya buat adalah sirkuit flip-flop. Saat itu saya tak tahu kenapa namanya flip-flop, tetapi sejak bertemu kuliah Pengantar Sinyal Dijital di Fasilkom, akhirnya tahu mengapa. Abang membantu saya memilih komponen dan merakitnya. Walau belum tahu bagaimana cara kerjanya, tetapi dikit-dikit tahu cara menyolder dan fungsi komponen. Saya mengenal mikrokontroller setelah mengetahui tentang skripsi yang dia kerjaan ialah aplikasi mikrokontroller. Tentang paman, dia adalah orang yang selalu memperbaiki sistem kelistrikan di rumah. Di Medan, sering terjadi pemadaman listrik bergilir, ketidakstabilan listrik menjadi semakin potensial, sehingga tidak heran sekring sering putus. Jadi, paman sering memperbaiki sekring tersebut. Tak hanya itu, gara-gara pemadaman bergilir juga menyebabkan barang elektronik jadi rusak, seperti kerusakan steker atau trafo. Dia bisa menge-hack-nya hingga akhirnya kembali berjalan. Ya, dia menjadi pahlawan ketika pemadaman terus merajalela. Elektronika memang begitu menarik dan sejak itu saya menyukainya.

@r_gkt

Jalan-jalan ke Kota Atami

Suka mandi air hangat? Sebagian besar orang berpikir akan pergi ke pegunungan dimana kita bisa menemukan lokasi pemandian air panas. Namun, kali ini saya menemukan hal yang berbeda di Jepang. Pemandian air panas satu ini berada di sebuah kota di tepi laut, namanya Kota Atami.

Pada tanggal 25 Desember 2014, saya dan teman-teman pertukaran pelajar berkesempatan untuk jalan-jalan ke kota Atami. Perlu kamu tahu, mungkin banyak orang di dunia merayakan natal pada saat itu, namun di Jepang, semuanya berbeda, orang-orang memanfaatkannya untuk jalan-jalan dan mungkin pacaran *bagi anak muda Jepang. Baiklah, kita sambung lagi. Kota Atami berada di selatan dari Tokyo, di prefektur Shizuoka. Kota ini langsung berhadapan dengan Samudera Pasifik. Dari Tokyo, kota ini dapat dicapai sekitar satu setengah jam jika menggunakan mobil atau bis. Di Atami, kami menginap sebuah hotel bernama Heart Pia Atami ( ハートピア熱海). Arsitektur kamar hotelnya sangat kental dengan nuansa Jepang. Ada tatami dan pintu kertas. Kalau tidur, pakai futon. Dari jendela kamar, kita bisa melihat pemandangan laut pasifik yang indah. Saat itu sudah malam, dan saya ingin sekali mandi. Saya melihat-lihat ke arah toilet, tapi akhirnya merasa ada yang aneh, sesuatu yang hilang dari peradaban, ternyata tidak ada shower roomnya. “Trus mandi dimana gan?” Setelah diselidiki, hotel tidak menyediakan shower di kamar seperti yang saya tempati. Jadi, mandinya di onsen.

Ornamen kamar hotelnya yang bernuansa Jepang

Ornamen kamar hotelnya yang bernuansa Jepang (foto oleh Kemal)

Aha, pasti sudah pernah tahu istilah ini.  Onsen adalah istilah orang Jepang untuk pemandian air panas. Sebenarnya saya sudah tahu istilah onsen dari anime yang pernah saya tonton di Indonesia, contohnya Ranma 1/2. Oleh karena itu, saya sudah punya firasat bakal mandi telanjang. Setelah dicek ke TKP, ternyata benar, semuanya harus dilucuti. Sebenarnya bisa saja buka-bukaan, tetapi “ga rame-rame juga men!!!”. Akhirnya, saya menyimpan niat untuk mandi saat itu dan memutuskan untuk mandi besok subuh! Kenapa subuh? Agar tidak banyak yang saling melihat. Sebenarnya walaupun sesama pria, saling buka-bukaan adalah hal yang biasa saja, tetapi menurut Islam itu tetap saja dosa. Ya sudah, ingin bersih, tapi dengan dosa yang minimum, ya cari waktu dimana orang mandi paling sedikit, ya mandi di waktu subuh. Kya kya kya…

Sejujurnya, mandi di onsen adalah pertama bagi saya. Mandi di onsen bukanlah hal yang sembarangan. Kita harus memakai sebuah kostum yang memang khusus untuk onsen, seperti foto yang di bawah ini. Sebelum mandi, kita harus shower-an terlebih dahulu, minum air putih secukupnya alias jangan sedang haus-hausnya, tidak boleh mandi terlalu lama, tidak boleh ada sehelai kain pun masuk ke dalam kolam pemandian, dan terakhir, harus mandi dalam keadaan rileks. Kalau mandi kelamaan, kamu bisa pingsan, menurut petunjuknya. Pengalaman mandi di onsen menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi saya.

Habis nge-onsen jadi makin tampan :)

Habis ngeonsen jadi makin tampan:) (foto oleh Kemal)

Keesokan harinya, kami menghadiri sebuah seminar yang diisi oleh Bapak Walikota Atami, yaitu Mr. Sakae Saito. Beliau juga adalah lulusan Tokodai jurusan teknik sipil. Dulu sewaktu mahasiswa, Beliau juga senang ikut student exchange ke berbagai negara di Amerika dan Eropa. Setelah lulus, dengan niat yang tulus, Beliau mengabdikan diri untuk membangun  Jepang. Beliau memutuskan untuk berkecimpung di dunia politik dan akhirnya terpilih menjadi walikota Atami. Sampai sekarang, Beliau masih terus berjuang untuk mengembangkan Kota Atami. Dari seminar itu juga, Beliau bercerita tentang asal usul kota Atami.

Kata “Atami” yang dalam kanji nya ialah 熱海 berasal dari gabungan dua kata, yaitu 熱い (dibaca : atsui) yang artinya panas dan 海 (dibaca : umi) yang artinya laut, sehingga artinya adalah laut panas. Sejak zaman dahulu, Atami terkenal dengan dua hal, yaitu onsen dan geisha. Di sini terdapat cukup banyak onsen. Dulunya, Atami menjadi pusat geisha di seluruh Jepang, dimana anggotanya sempat mencapai 6 ribu orang. Bahkan, sampai sekarang sekolah dan teater terbuka untuk geisha masih bisa ditemui di kota ini. Tak jauh dari pantai, terdapat bukit yang tinggi sekali, dimana dari sana kita bisa melihat pantai dan lautan Pasifik yang indah. Kota ini bisa diakses dari seluruh penjuru Jepang menggunakan kereta Shinkansen. Dengan kenikmatan kota Atami yang seperti itu, tak heran, banyak orang Jepang memilih tempat ini sebagai lokasi bulan madu.

Pemandangan Samudera Pasifik dari dalam hotel.

Pemandangan Samudera Pasifik dari dalam hotel すごい ね。。。 (foto oleh Kemal)

Setelah seminar itu, kita diajak keliling kota Atami bersama pemandu wisata yang sebenarnya juga masih mahasiswa-mahasiswi salah satu sekolah wisata di Kota Atami. Jadi pemandu wisata ini bisa dibilang berpengalaman di kotanya *ya iyalah…. Sebagai informasi, pemandu wisata kita adalah seorang cewek Jepang. Kita berkunjung ke sebuah kuil shinto, yang bernama Kuil Kinomiya. Kuil ini tidak jauh dari pusat kota. Sesampainya di kuil, pemandu wisata bukannya berhenti, malah terus membawa kami berjalan yang kelihatannya hanya berkeliling, mengelilingi sebuah pohon. Merasa ada yang tidak beres, saya langsung bertanya.

“Kita ngapain mbak?”

“Keliling pohon. Nanti umur kita akan bertambah satu tahun.”

“Keliling pohon?”

Ternyata pohon yang kita kelilingi adalah sebuah pohon tua yang dianggap suci oleh orang Jepang. Katanya, kalau kita mengelilinginya, umur kita akan bertambah. なるほど。。。

Pintu masuk kuil Kinomiya

Pintu masuk Kuil Kinomiya

Kuil Kinomiya
Bangunan Kuil Kinomiya
Pohon yang disucikan

Pohon yang disucikan (foto oleh Syarif)

Di akhir perjalanan, kami menyempatkan diri untuk berjalan di tepi pantai Atami. Karena saat itu masih musim dingin, jadi enggan bermain dengan air laut. Walaupun begitu, pemandangan tepi laut di Atami cukup mengesankan. Di tepi pantai, terdapat cukup banyak perahu, barangkali bisa disewa. Maybe.

(foto oleh Syarif)

Foto santai di dermaga (foto oleh Syarif)

885366_729540433725137_1148532094_o

Foto bareng teman-teman pertukaran pelajar (foto oleh Syarif)

Yang di bawah ini ialah panorama Kota Atami dan pantainya.

Atami Beach

Atami Beach

Mungkin itu yang bisa saya ceritakan tentang perjalanan saya ke Atami.  Sebagai info tambahan, sebenarnya tulisan ini saya buat atas permintaan dari Tokodai. Saya cukup menikmati perjalanan ini. Oleh karena itu, saya senang dapat menceritakannya. Kalau kamu ke Jepang, dan ingin mencoba onsen, bermain di pantai yang asik di Jepang atau buat yang sudah nikah ingin berbulan madu, Atami adalah salah satu kota yang saya rekomendasikan bagus untuk dikunjungi. Have a pleasure time:)

1507490_729540650391782_602640512_o

“Uuu yeah!” dulu [bonus scene] *ga penting (foto oleh Syarif)

Home Stay Experience

One Night Home Stay. Though, it is a late post, this experience was interesting for me and I think I need to tell the story. It was my first experience to live with Japanese people. A few days before, I felt very nervous imagining how it would be like. Since I had never got any Japanese friends before, I could not figure out how I should behave. Nevertheless, I convinced my self that everything gonna be alright. Yes, that time, I was going to spend a night and a day with Saka family. Feeling excited!

Saka family

Saka family

The first time I met Saka family, I was amazed. They are so friendly. They welcomed me warmly. Though they spoke English a little, we had had long conversations. They asked me to cook meals together. They taught me how to cook pizzas and Okonomiyaki in Hiroshima style. Hiroshima style Okonomiyaki is rarely found in Indonesia, even in Tokyo. Also, I have never cooked Japanese food before. They also taught me Shuji, Japanese calligraphy. Well, it was exciting to write Shuji, because I think it is cool. I loved anime. Many Japanese calligraphy can be found in many Japanese popular arts, including anime.

The little bro's teaching me how to cook Okonomiyaki

The little bro’s teaching me how to cook Okonomiyaki

Party with other families, delicious foods, everywhere :9

Party with other families, delicious foods, everywhere :9

We also had a party on the Saturday night with other Hippo families. It was really fun. We played some games together. Fortunately, the other families came with the Indonesian students too, so we introduced ourselves in Bahasa Indonesia, Japanese, and English. There were many Japanese foods. It was my first time to try Sushi. All the foods were delicious. I was also taught to cook Takoyaki. I played the guitar and other Indonesians sang the Indonesian, Japanese, and English songs for the families. I was very delighted to entertain all the people in the party.

Home Stay Experience

Home Stay Experience

Though it was very short, they have given me so many experiences. I was confused how to pay that. They asked me to cook Indonesian food for them in the next time I come, so I have to keep that promise. Thank you very much, Saka family:)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,399 other followers